Showing posts with label Antara Puisi. Show all posts
Showing posts with label Antara Puisi. Show all posts

Saturday, October 11

Cermin Mimpi - M.Nasir





M. Nasir - Cermin Mimpi

Di balik cermin mimpi
Aku melihat engkau
Di dalam engkau
Aku melihat aku
Ternyata kita, adalah sama
Di arena mimpi yang penuh bermakna.

Bila bulan bersatu dengan mentari
Bayang-bayang ku hilang
Diselebungi kerdip nurani
Mencurah kasih, kasih murni
Mencurah kasih.

Di balik cermin, cermin mimpi
Ada realiti yang tidak kita sedari
Hanya keyakinan dapat merestui
Hakikat cinta yang sejati
Hakikat cinta yang sejati.

Dengan tersingkapnya tabir siang
Wajah kita jelas terbayang
Dan terpecah cermin mimpi
Menjadi sinar pelangi
Pelangi.

Friday, October 3

Puisi Pertemuan Mahasiswa - W.S. Rendra




Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kali (sungai) coklat menjalar ke lautan
Dan mendengar dengung lebah di dalam hutan

Lalu kini ia dua penggalah tingginya
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
Memeriksa keadaan

Kita bertanya:
Kenapa 'maksud baik' tidak selalu berguna?
Kenapa 'maksud baik' dan maksud baik bisa berlaga?
Orang berkata:
Kami punya (ada) 'maksud baik'”
Dan kita bertanya: “'maksud baik' saudara untuk siapa??”

Ya!
Ada yang jaya, ada yang terhina!
Ada yang bersenjata, ada yang terluka!
Ada yang duduk, ada yang diduduki!
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras!
Dan kita disini bertanya:
'Maksud baik' saudara untuk siapa??
Saudara berdiri di pihak yang mana?!!

Kenapa 'maksud baik' dilakukan...
Tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya!
Tanah–tanah di gunung sudah menjadi milik orang–orang di kota!
Perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja!
Alat–alat kemajuan yang diimport
Tidak cocok (sesuai) untuk petani yang sempit tanahnya!
Tentu, kita bertanya:
“'maksud baik' saudara untuk siapa?!”
Kita mahasiswa tidak buta!!

Sekarang matahari semakin tinggi
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
Dan di dalam udara yang panas
Kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana??
Ilmu–ilmu yang diajarkan di sini
Akan menjadi alat pembebasan!
Ataukah akan menjadi alat penindasan??
Kita menuntut jawapan!!

Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Dan malam tiba
Cicak–cicak bernyanyi di tembok
Rembulan berlayar
Tapi!
Pertanyaan-pertanyaan kita tidak akan mereda
Ia akan muncul di dalam mimpi
Akan tumbuh di kebun belakang!

Dan esok hari
Matahari akan terbit kembali
Senantiasa hari baru akan menjelma
Pertanyaan–pertanyaan kita akan menjadi hutan
atau masuk ke kali (sungai)
menjadi ombak di samudera!!

Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera
Ada yang habis, ada yang mengikis
Dan maksud baik kita

Memihak yang mana?

Gus Mus - Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana



Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

-1987-

Thursday, February 14

Sajak Ukhuwwah Sang Perantau (Hilal Asyraf)





Tajuk : Ukhuwwah Sang Perantau.
Ciptaan : Hilal Asyraf.

Indah,
Dalam hidup dia mengalir,
Daripada keimanan dia terbina
Ukhuwwah, itulah namnya.

Di sini, bersama kami bersama,
Kongsi gembira di tanah jauh,
Jauh dari saudara dan keluarga,
Tetapi gembira... gembira kami gembira,
Kerana teman wujud di sisi kita.

Jangan, jangan dihilang jangan,
Ukhuwwah ini biar perpanjangan,
Hingga ke syurga nanti,
Kami berpimpinan tangan.


Sunday, December 2

Cinta Sebenar - Impianku




Apa yang kita impikan,
sememangnya tidak semua menjadi kenyataan.
Apa yang kita dambakan,
tidak semestinya akan berada di genggaman.
Apa yang kita pasti,
ALLAH lah pengatur yang terbaik.
Dan segala kebaikan itu,
masih dalam rahsia hikmahNYA.

Sememangnya ALLAH memberi
apa yang kita perlukan.
Dan kadang-kadang,
kita tak mahukan perkara itu.
Namun setelah dia mengetahui rahsia hikmah
pemberianNYA,
sujud syukur yang pergerakan utamanya.
tanda perhambaan segala nikmatNYA.

Engkau tidak ingin berjanji,
dan Aku juga tidak perlukan janjian.
Kerana perjanjian itu adalah seakan lubang jahanam,
dan seringkali manusia terperangkap di dalamnya.
Maka aku tidak suka manuisa yang suka mengorek lubang itu,
kerana pasti kita teruji dengan janji yang ditabur.
saat itu kekecewaan melanda,
jiwa hamba melemahkan PENCIPTA.

Kerana itu,
saat ini adalah untuk semua memperbaiki diri.
Bukan sibuk menabur janji itu dan ini.
Kerana aku perlukan kekasih sejati,
yang sedang bersiap memiliki cinta sebenar.
Bukan untuk aku, untuk PEMILIK diriku.
Bersiaplah untuk deenmu,
perjalanan dakwahmu,
urusan duniamu,
persediaan akhiratmu,
aturan hidupmu,
dan perancangan matimu.

Kerana kebahagiaan sebenar kita,
apabila berada dalam redhaNYA.
Kerana dunia ini tidak menjanjikan apa-apa,
ianya adalah ladang untuk akhirat.
Hasilnya adalah untuk membeli Syurga,
jika tidak cukup,
Nerakalah tempatnya.
Semoga ALLAH redhai kita semua.


Tuesday, May 22

Istimewa : Di Jendela Ini (Karya Seorang Guru)



Di Jendela Ini

Di jendela ini
ku menyaksikan keruntuhan bangsa
menangisi hilangnya peribadi ummat
Dan luntur luluhnya IMAN
Di ulit kemewahan, diragut kepapaan

Di jendela ini
Kuratapi kematian jiwa
Hancur runtuh rumahtangga
Terbiar terkapar anak-anak bangsa
mengais secebis identiti
menyudu kehormatan dan harga diri
Dicelah runtuhan sebuah kehidupan.

Tiada lagi kebahagiaan
pudar sudah lirikan senyuman
Bila diri lupa jalan pulang
pada Pemilik jiwa dan kehidupan

Tiada lagi kelapangan hati
pada mahligai tersergam berdiri
Apabila insan lupa diri
Hidup sekadar nafsu nafsi

Tiada lagi kelazatan jiwa
pada sajian hebat di meja kehidupan
bila hati tak mengenal Pencipta
Pemilik diri dan semesta alam

Maafkan guru mu
anak-anak tercinta
Lama ku berdiri di jendela
lupa dirimu semakin dewasa
nasihatku melimpah dalam bicara
tapi tiada hikmah dalam kata-kata

Maafkan guru mu
anak-anak tercinta
terleka jiwa ku dijendela
terlupa dirimu manusia biasa
tidak suka dikongkong jasad dan jiwa

Hanya satu harapan dicita
Dirimu terpelihara diluar sana
Indah pekertimu menyeri dunia
Membimbing manusia pada Pencipta



Cikgu Azmi Bahari
Bumi Wakafan, MATRI
11.45 PM, 21 Mei 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...